Cerpen Kekasih 18 Jam

Cerpen Kekasih 18 Jam

                Rintik-rintik hujan menyapa  mendung yang tercipta, suara deras hujan belum terlalu terdengar. Suasana lalu-lintas ramai oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Cleo dan Papa masih menikmati Have I told You Lately That I Love You yang memenuhi setiap sudut mobil. Suara Van Morrison terdengar indah dan hangat, seketika suasana terasa begitu damai.
                "Beneran kamu  mau ke Yogyakarta tanggal 27 Desember?" Papa melajukan mobil deng an kecepatan sedang. "Emangnya kamu berani pergi sendirian naik bus?"
                Cleo mengangguk pelan. "Kesempatan perdana bisa naik bus sendirian. Selama ini keseringan naik pesawat, cuma 45 menit, enggak ada pengalaman sama sekali."
                Papa tak mampu menahan tawa, pipinya tertarik hingga membentuk lengkung lebar di bibirnya. "Oke, di Cibinong memang banyak agen bus, mungkin kita coba yang itu dulu ya?"
                "Aku enggak tahu juga sih, kita coba yang di dekat sana aja, Pa." ujar Cleo menunjuk ke salah satu sudut jalan.
                Tanpa pikir panjang, Papa langsung membelokkan stir. Cleo dan Papa menuruni mobil ketika kendaraan roda empat itu telah merapatkan tubuhnya pada tempat parkir. Mereka berjalan santai menuju agen bus. Tempat itu terlihat tak ramai, juga tak terlalu besar. Agen bus yang meletakkan beberapa plang di depannya terletak di teras rumah yang terbuka. Ada beberapa bangku dan satu meja yang dijaga oleh seorang wanita paruh baya berkacamata.
                "Yogyakarta untuk tanggal 27 Desember ada ya, Bu?" Papa membuka percakapan dengan ramah. Beliau duduk berhadapan dengan wanita itu. "Naik bus apa? Kalau bisa eksekutif ya."
                 Wanita itu mengangguk pelan. "Sebentar, Pak. Saya akan menanyakan tiket bus yang masih tersedia, berhubung minggu ini adalah minggu liburan; banyak orang yang berpergian."
                Cleo yang sibuk dengan gadget-nya tak mau terlalu mendengar percakapan Papa dan wanita itu. Hujan mulai datang dengan intensitas sedang, sementara Cleo menggeser posisi duduknya agar tak terkena cipratan air. Beberapa menit ia menunggu, seorang pria datang tergesa-gesa memasuki tenmpat agen bus. Pria itu melipat payungnya dan segera duduk di samping Cleo. Dengan perasaan tak bersalah, ia segera memantik rokoknya dan menghisap batang rokok dalam-dalam. Asap diembuskan secara santai agar menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karena hujan. Merasa terganggu dengan bau tak sedap, Cleo mulai milirik pada seseorang yang ada di sampingnya.
                Deg.
                Bibir Cleo terkunci rapat. Ia seperti melihat ksatria yang baru turun dari relief-relief candi. Pria berkacamata yang merokok tepat di sampingnya terlihat memesona. Entah kata-kata seperti apa yang mampu menggambarkan sosok indah yang kini berhadapan dengannya. Sekelebat bayangan maya tiba-tiba menusuk-nusuk otaknya. Cleo seperti kehilangan kesadaran. Wajah oriental, berhidung mancung, bibir tipis, serta dagu seperti lebah bergantung. Tuhan mendorong seorang malaikatnya masuk ke dalam dunia.
                N ampaknya, pria itu tak sadar sama sekali bahwa Cleo memerhatikan wajahnya yang manis dan rupawan. Orang tampan memang tak pernah salah, pada akhirnya Cleo tak jadi menegurnya. Cleo yang mulutnya menganga malah sibuk merapikan debar jantung yang berdegup cepat, seperti siap meledak di titik kulminasi. Ada sesuatu yang menjalar di dadanya, cepat sekali hingga Cleo tak mampu memprediksi apa yang terjadi pada tubuhnya.
                Tanpa memedulikan Cleo, pria bermata sipit itu membunuh batang rokok yang makin menciut. Ia meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menuju meja agen bus. "Yogyakarta tanggal 27 Desember ada ya, Bu?"
                Cleo yang sejak tadi memasang telinga tambah tak karuan tingkahnya. Wanita penjaga agen bus memberi isyarat agar pria berkacama menunggu terlebih dahulu.
                Jadi. Pria itu. Juga ke Yogyakarta. Disimpulkan. Bahwa. Cleo. Satu bus. Dengan pria yang membuat debaran jantungnya berdetak membabi buta.
                "Pak, Mas..." ucap wanita penjaga agen bus sambil menatap Papa dan pria manis itu. "Bapak dapat bangku nomor 31 dan Mas dapat bangku nomor 32, keberangkatan bus pukul dua siang."
                Pria itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Ia segera membeli tiket dan meninggalkan tempat agen bus. Ia mengembangkan payung nya dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan sosok Cleo yang mematung. Ia tak percaya bahwa ada keajaiban yang secara tak sengaja ia dapatkan. Keajaiban memang seperti maling, ia seringkali datang tiba-tiba dan mengagetkan secara sederhana.
                Papa tersenyum menghampiri Cleo. Beliau mengulurkan tangannya dan memberikan tiket itu pada Cleo. Ada sesuatu yang aneh terpancar dari tatapan Cleo, wanita ini mematung dan membiarkan gadget yang digenggamnya terus menyala tanpa digunakan.
                "Ehem!" Papa sengaja terbatuk, ia berusaha menyadarkan Cleo dan membawa jiwanya kembali masuk ke tubuh.
   Cleo masih mematung dan terdiam.
                "Cleo! Cleo!" bentak Papa keras, namun beliau tetap tak berhasil menarik tubuh Cleo yang hampir menyentuh langit ketujuh.
***
                Papa memasukan koper besar Cleo ke bagasi, Cleo melambaikan tangan ke arah Papa. Ia sengaja masuk lebih awal ketika bus datang, karena hujan kembali membendung langit Bogor. Cleo duduk di bangku 31 dan menatap ke bangku sampingnya, bangku nomor 32. Tak ada pria oriental yang ia temui kemarin. Ia menyandarkan tubuhnya di bangku, helaan napasnya terdengar kecewa.
                Cleo melempar pandang ke arah mobil Papa yang sebentar lagi meninggalkan parkiran, dari sebuah gang sempit, seseorang dengan tas punggung berlari dengan tergesa-gesa. Senyum Cleo langsung melengkung sempurna. Ia langsung merapikan rambutnya juga bajunya, tangannya merogoh-rogoh tas untuk mencari cermin. Cleo bahkan tak sadar kalau tingkahnya sudah sangat berlebihan.
                Pria itu berjalan pelan-pelan di tengah bus, ia mencari-cari nomor sesuai nomor bangku yang tertera di tiketnya. Setelah mendapatkan  bangku yang dimaksud, dia meletakkan barang di tempat yang telah tersedia dan duduk di samping Cleo.
            Cleo terdiam. Tidak! Kali ini ia tak boleh terlihat bodoh dan salah tingkah. Cleo berusaha bertindak seperti biasa, namun rasanya berat. Akan sulit bertindak seperti biasa ketika wanita duduk berdekatan dengan pria yang membuat debaran jantungnya berdetak tak karuan.
                Bus berjalan di tengah hujan, melenggang dengan santai membelah Jalan Raya Bogor. Tak ada percakapan antara pria itu dan Cleo. Ia lebih sering mengutak-atik handphone-nya sementara Cleo sibuk menatap jalanan basah  yang tersentuh derasnya hujan. Lengan mereka secara tak sengaja memang bertemu, dan itu embuat Cleo seperti tersengat listrik. Napasnya tercekat dan bibirnya langsung terkunci rapat.
  Lama sekali mereka terdiam, hingga siang berganti petang, dan senja kemerahan berganti malam menghitam. Bus berjalan dengan kecepatan sedang, sesekali Cleo memang mencuri pandang ke arah pria itu, namun ia tak berani menatapnya lebih dalam dan lebih lama. Bagi sebagian orang, menatap sedetik pun sudah cukup berarti daripada tak menatap sama sekali.
                Semua penumpang terlihat tertidur pulas. Pukul duabelas malam bergulir dengan cepat, tak ada musik dan putaran lagu yang terdengar. Hanya beberapa suara dengkuran penumpang pria yang berdengung di telinga Cleo, juga suara air conditioner yang seketika terdengar bising. Cleo mencapai titik kebosanan, ia tak lagi sering-sering menatap ke arah pria itu. Alhasil, Cleo malah menikmati jalanan yang mulai terlihat lengang di luar bus. Ia menatap ke jendela dengan tatapan bosan. Dibenarkannya lagi posisi duduknya, ia mengembuskan napas.
                Tak sengaja, Cleo iseng menatap pria itu lagi. Ternyata, dia sudah tertidur pulas. Bibir tipisnya mengatup. Rambut cepaknya terlihat berantakan namun tak menghancurkan sisi ketampanannya. Hidungnya mancung. Kacamatanya juga tak di lepas, menyebabkan wajah Cleo yang sibuk memerhatikan pria itu langsung terpancar di lensanya. Jaket yang pria itu gunakan terlihat hangat. Lehernya yang jenjang tertutup oleh kerah jaket. Cleo seperti melihat keindahan lain di dalam bus ini. Rasa bosannya hilang seketika. Sempurna.
                Ada pikiran iseng yang bergelut dalam otaknya. Berhubung pria itu sudah tenggelam dalam dunia mimpi, Cl eo ingin mencari kesempatan untuk bersandar di bahunya, seakan-akan Cleo tertidur pulas. Ia tertawa puas. Diluncurkannya keberanian sekuat hati, ia pura-pura tidur dan bersandar di bahu pria itu.
                Hangat. Dan, nyatanya pria itu juga tak sadar kalau Cleo sedang bersandar di bahunya. Tatapan Cleo kembali menatap jendela, ia tersenyum malu-malu tanpa sebab. Ada kehangatan yang berbeda di bahu pria itu. Cleo memindahkan pandangannya, ia sangat dekat dengan leher jenjang pria itu. Ia perhatikan sangat dalam dan semakin dalam, tiba-tiba jakun pria itu terlihat bergerak seperti menelan sesuatu.
                ANJRIT! INI ORANG SEJAK TADI ENGGAK TIDUR? Teriak Cleo dalam hati. Ia tersentak dan bergeser mem indahkan kepalanya dari bahu pria itu.
                Cleo kembali mengumpulkan keberanian, otaknya sedang meramu kosakata. "Sejak tadi kamu enggak tidur?"
                Tak ada jawaban, ia hanya terdiam, ia juga tak membuka matanya. Pria itu mengarahkan tangannya menyentuh lembut kepala Cleo, gerakannya membuat Cleo kaget. Ia malah mengarahkan kepala Cleo mendarat sempurna di bahunya.
                "Aku kira kamu tidur beneran, ternyata pura-pura." bisikan pria itu terdengar hangat dan ramah. Matanya masih tertutup.
                Tanpa pikir panjang, Cleo lancang memasukkan lengannya ke lengan pria itu. "Aku kira kamu udah tidur, aku numpang mencari bantal, ketemunya ya di bahumu."
                Pria itu berdesis. Ia mengulum bibirnya dan tertawa kecil. "Tadi yang mengantar Papamu ya?"
                "Iya." jawab Cleo dengan cepat. "Kok tahu?"
                "Kelihatan aja, mukanya mirip."
            Cleo tertawa dengan suara kecil. Lengan mereka yang saling bertemu membuat Cleo merasa hangat.
                "Nama kamu siapa?" bisik pria itu lembut, seperti menggelitik telinga Cleo.
                Bisikkan itu membuat Cleo jadi merinding. "Cleo, kalau kamu?"
                "Raditya." pria itu membenarkan posisi duduknya, menatap Cleo dengan tatapan mendalam. "Yogyakarta-nya di mana?"
          "Daerah selatan, kalau kamu?"
                "Jombor, masih di utara."
                Tak ada kata-kata, mereka menikmati tatapan mata yang saling mengunci. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Wajah Raditya terlihat sangat tampan, sinar lampu jalanan yang menelusup melalui jendela memancarkan kesan hangat.
                Pria itu mendekat. Bibir Cleo dan Raditya bertemu. Beberapa detik kejadian romantis itu tercipta, mereka langsung saling melepaskan.
               "Sorry, kebawa situasi. Soalnya di sini dingin banget." ucap Raditya canggung, ia merasa bersalah.
                Cleo tertawa sebentar, dan menatap wajah Raditya dengan tatapan berarti. Pelan-pelan ia menyentuh bibir Raditya dengan lembut. Cleo memagut dan sedikit mengigit, hingga Raditya mendesah pelan.
                "Bibir kamu manis." bisik Cleo pelan di tengah-tengah pagutan bibir mereka yang bersentuhan.
                "Karena filter rokok, Cleo." jawab Raditya masih menikmati detik-detik menyenangkan itu.
                Gantian Raditya yang mengigit bibirnya, Cleo mencari jalan pintas dengan mengarahkan lidahnya menyentuh lidah Raditya. Mereka sama-sama tenggelam dan tak sadar pada lingkungan sekitar, untung saja para penumpang sudah tertidur pulas.
                Beberapa menit bibir mereka bertemu, Cleo dan Raditya saling melepaskan. Mereka saling menghangatkan di tengah dinginnya embusan air conditioner.
                "Kamu punya pacar?" tanya Raditya membelai lembut rambut Cleo.
              Cleo mengangguk malu-malu. "Punya, kalau kamu?"
                "Punya juga, dia di Yogya."
                Cleo menatap lurus-lurus ke arah Raditya. "Apa kata mereka nanti kalau tahu kita berbuat gini?"
                Raditya tertawa pelan, ia mengecup bibir Cleo tanpa basa-basi. "Makanya, kamu enggak perlu bilang ke pacarmu, aku juga begitu."
                Dalam gelapnya malam, mereka terantuk oleh rasa lelah. Sama-sama tertidur dalam pelukan hangat. Hangat sekali, dekat sekali, sampai-sampai mereka tak sadar bahwa perkenalan mereka masih terlalu singkat dan terlalu cepat untuk melakukan sentuhan fisik. Cleo dan Raditya baru terbangun ketika matahari masih mengintip pelan-pelan. Mereka menikmati matahari terbit berdua dalam keadaan mengantuk dan rambut yang berantakan.
                Tak terasa sebentar lagi mereka sampai di tempat tujuan. Yogyakarta.
                Jombor berada di utara Yogyakarta, itu berarti Raditya lebih dulu turun daripada Cleo. Helaan napas mereka sana-sama berat, ketika Jombor terlihat Raditya langsung melepaskan peluknya. Ada perasaan berat yang menggan jal hatinya, ia segera mengambil tas dan bersiap-siap meninggalkan Cleo.
                "Duluan ya, Cleo." ujar Raditya dengan nada tak ikhlas, ia menuruni bus dan mencari-cari bayangan Cleo dari jendela.
                Cleo tersenyum getir ketika menatap Raditya yang semakin menjauh. Tak menitip nomor handphone juga identitas diri.
                Ia tak ingin menghapus bekas bibir Raditya di bibirnya.

with love :)
Dwitasari